Bingung juga yang mana. Dua-duanya sama-sama parah. Tapi, kalau dilihat dari segi orang-orangnya, pendapatku (pribadi) musyrik lebih parah. Maksudku, Yahudi menyerang Gaza. Wajar, kan, kalau musyrik lebih parah?
Pendapat lain, orang-orang musyrik tahu kalau Tuhan itu ada, tetapi mereka memilih menyekutukan-Nya. Nah, orang-orang atheis belum tentu tahu kalau Tuhan itu ada. Mereka hanya tidak mengerti. Siapa tahu, mungkin saja karena mereka tidak pernah diajari mengenai agama.
Tapi, masalahnya, bagaimana kalau mereka tahu Tuhan itu ada, dan mereka memilih untuk tidak menyembah-Nya? Apakah itu menjadikan mereka setara dengan orang-orang musyrik? Jika ya, mereka kan tidak menyembah yang lain; apakah itu masih menjadikan mereka sama dengan orang-orang musyrik? Apakah kepercayaan akan ketidakberadaan Tuhan juga dianggap musyrik?
Jika kuanggap hal ini seperti sebuah ulangan pilihan ganda. Ulangan itu menggunakan sistem minus. Jika benar nilai akan bertambah, jika salah nilai berkurang, namun jika tidak menjawab sama sekali maka nilai tidak akan bertambah maupun berkurang.
Di satu soal, aku ragu akan menjawab pilihan A, B, C, atau D. Misalkan jawaban yang benar di antara A dan B. Aku tidak yakin jawaban yang benar yang mana. Jika aku benar memilih maka, sekali lagi, nilaiku akan bertambah dan mungkin aku akan lulus ulangan tersebut. Tetapi, jika salah, maka bisa fatal akibatnya. Akhirnya, aku memilih jalan aman: tidak memilih. Diam.
Kembali ke masalah, andaikan pilihan A tadi musyrik dan B bukan musyrik. Aku ragu mana yang benar, maka aku memilih untuk tidak memilih sama sekali. Dengan kata lain, aku menjadi atheis (tetapi aku BUKAN atheis. Ini hanya perumpamaan).
Kalau dilihat dari segi ini, atheis tampak lebih baik daripada musyrik. Yah, lagipula, dilihat dari Israel-Gaza, musyrik memang terlihat lebih parah. Selama enam belas tahun lebih aku hidup, belum pernah kudengar berita mengenai serangan kaum atheis.
Tapi, dari kesimpulan di atas, bukan berarti atheis itu bagus. Hanya tidak lebih parah dari musyrik saja.
Yah, aku penasaran bagaimana pendapat orang lain.


| [+/-] |
Musyrik atau Atheis? |
| [+/-] |
Tingtong! |
Post kali ini buat perkenalan doang.
Oke. Beberapa bulan yang lalu aku membaca sebuah buku. Ceritanya mengenai seorang anak yang bersekolah di sebuah sekolah yang menarik di Swiss. Di salah satu bab, si anak mendapat pelajaran mengenai berpikir. Nah, dari situ aku dapat ide untuk membuat blog ini.
Memang, 'berpikir' sepertinya membosankan. Yang melakukan kegiatan ini biasanya orang-orang macam Einstein dan Newton. Bagi orang lain, biasanya berpikir itu kegiatan sampingan. Hal yang dilakukan hanya jika ada waktu yang benar-benar luang dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali berpikir.
Masalahnya, kita diberi otak untuk berpikir. Entah berpikir tentang apa--pokoknya berpikir, baik negatif atau positif. Jadi, kita seharusnya jangan malas berpikir. Banyak hal di dunia ini yang harus dipikirkan. Entah itu hal yang menimbulkan pra-kontra, hal yang masih berupa misteri, atau bahkan masalah pribadi. Dan pada kenyataannya, berpikir pun sebenarnya menghabiskan waktu lebih dari yang kita kira.
Misalnya, dalam 3 hari, coba kau pikirkan bagaimana cara menilai pikiran seseorang. Sampai seminggu pun, kalau tidak disuruh berhenti, kau tidak akan bisa berhenti memikirkan bagaimana caranya.
Tetapi, untuk jangka panjang, kegiatan seperti ini biasanya berlaku untuk kegiatan berkelompok. Karena dengan adanya kelompok, banyak pikiran yang bisa dibagi dan kesimpulan pun tidak akan didapat semudah yang dibayangkan.
Jadi, cobalah luangkan waktu sekali-kali untuk berpikir. Pikirkan tentang apa saja. Untuk langkah awal, mungkin bagus jika diawali dengan pertanyaan 'Siapa aku?'. Kalau dalam satu menit kau sudah mendapatkan jawaban siapa dirimu, coba pikirkan ulang. Siapa tahu jawaban itu tidak menggambarkan dirimu, tetapi menggambarkan seseorang yang kamu kira adalah dirimu.
Berpikir itu mudah. Coba saja.




