Positif yang Negatif?

| 0 komentar |

Kalau diperhatikan, kata positif selalu disangkutpautkan dengan hal-hal yang baik, seperti dermawan, ikhlas, sabar, membantu orang lain, dll. Sementara kata negatif dihubungkan dengan hal-hal yang kurang baik, contohnya mencuri, membunuh, berbuat nakal, mengganggu orang lain, dsb.

Tapi, positif tidak selalu baik dan negatif tidak selalu buruk, walaupun positif selalu benar dan negatif selalu salah.

Dalam bidang kedokteran, misalnya, seorang pasien tidak akan mengharapkan hasil positif, kecuali jika pasien tersebut seorang wanita yang memeriksa kehamilannya. Jika pasien itu seorang pria yang baru saja melakukan tes kanker atau AIDS atau penyakit-penyakit berbahaya lainnya, hasil yang diharapkan tentu saja negatif. Siapa yang mau mendapat hasil tes positif untuk Virus A-H1N1, misalnya? Kecuali jika orang itu memang ingin mati atau ia menderita Munchausen's Syndrome.

Dengan begitu, positif bukanlah hal yang selalu baik dan menyenangkan dan negatif bukan merupakan sesuatu yang selalu buruk. Setiap cerita pasti mempunyai dua sisi, ingat? Tidak terkecuali Positif dan Negatif itu sendiri. Positif mempunyai sisi positif dalam banyak hal (namanya saja 'positif') dan sisi negatif dalam hal-hal tertentu lainnya. Aturan ini berlaku juga untuk kata negatif.

Tidak semua hal baik dan tidak semua hal buruk, tergantung dari mana kita memandang.

LEER MÁS...

Bagaimana Jika Aku Mati?

| 0 komentar |

Ini satu pertanyaan yang tidak bisa kujawab, dan malah hanya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain, seperti:

Apa orang-orang akan merasa kehilanganku?
Akan seperti apa pemakamanku nanti?
Siapa saja yang akan hadir pada acara pemakamanku?
Apa teman-temanku akan merindukanku?
Bagaimana nasibku nanti?
Apakah kematianku akan membuat suatu perubahan, atau malah tidak ada yang peduli jika aku mati?

Yah, kuharap ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

LEER MÁS...

Apa Itu Cinta?

| 0 komentar |

Cinta adalah anugerah--itu jelas. Tanpa cinta makhluk hidup--manusia--tidak dapat berkembang biak. Anak-anak tidak akan tumbuh dengan baik. Persahabatan akan lenyap. Tidak akan ada lagi binatang peliharaan; hanya ada hewan liar yang berkemungkinan terancam musnah karena tidak ada lagi manusia yang peduli. Kehidupan tidak akan berwarna. Mungkin menjadi sejelas hitam-putih atau seburam abu-abu. Tapi yang pasti tidak bakal indah.

Cinta bukan hanya sekedar perasaan suka terhadap seseorang, tetapi juga rasa peduli di antara teman, rasa sayang dalam keluarga, serta rasa kasih untuk sesama. Juga rasa kagum pada sang idola. Cinta selalu memberi perasaan nyaman, hangat dan tenteram, juga perasaan manis yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Cinta membuat seseorang seperti berada di surga.

Tetapi cinta juga membuat seseorang merasa khawatir, gelisah dan takut. Khawatir akan keadaan dia yang dicintai, gelisah akan kabar dia yang disayangi, serta takut akan kehilangan mereka.

Yah, mau bagaimana lagi. Setiap cerita mempunyai dua sisi yang berbeda. Tidak ada pengecualian.

Dan cinta itu buta. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika dua insan jatuh cinta. Kita tidak tahu siapa sebenarnya yang kita sayangi sebelum kita akhirnya/nyaris kehilangan mereka. Seorang remaja canggung rela melakukan apa saja untuk mendapatkan pujaan hatinya. Seorang kekasih akan sulit melihat sisi negatif pasangannya jika ia sudah terlalu mencintainya. Bahkan selingkuh pun jadi tampak benar karena cinta membutakan segalanya.

Tapi, sekali lagi, cinta itu anugerah.

Cinta membuat seseorang mersa utuh. Cinta membuat beban berat menjadi ringan. Cinta membuat kita mampu menghadapi rintangan. Cinta membuat segalanya menjadi lebih indah. Cinta membuat kita bahagia. Cinta membuat hidup lebih bermakna. Cinta membuat kita memiliki tujuan, baik itu positif maupun negatif.

Hidup tanpa cinta adalah hidup tanpa kehidupan itu sendiri. Hidup tanpa cinta terasa kosong dan hampa. Hidup tanpa cinta hanya memberikan kesengsaraan. Hidup tanpa cinta hanya menghadiahkan keputusasaan. Hidup tanpa cinta sama dengan menyerah. Hidup tanpa cinta lebih buruk dari hal yag bahka lebih buruk dari kematian. Tidak ada yag bisa hidup tanpa cinta.

Lagi dan lagi, cinta adalah anugerah. Cinta itu menyakitkan. Tidak ada yang tahu pasti apa itu cinta. Cinta selalu, dan akan selalu, menjadi misteri.

Cinta membuat seseorang merasa mampu melakukan segalanya.

Cinta bahkan membunuh Lord Voldemort.

Dan semua yang tertulis di atas belum menjelaskan semua tentang cinta, karena cinta tak dapat hanya dijelaskan melalui kata-kata.

Cinta adalah cinta.

LEER MÁS...

Teman, Pacar, atau Keluarga?

| 0 komentar |

Kalau aku, mungkin urutannya akan seperti ini:

1. Keluarga
2. Teman
3. Pacar
4. dll.

Aku tidak punya pacar, jadi wajar saja jika kutempatkan 'pacar' di urutan ketiga. Tapi mungkin berbeda dengan mereka yang memiliki pacar. Menurutku, jika seseorang yang berasal dari keluarga yang kacau, mungkin teman/pacar akan jadi urutan utama mereka. Atau seseorang yang keluarganya tidak mendukung dan dia tidak punya pacar, kemungkinan 'teman' akan menjadi prioritas. Percaya atau tidak, ada juga orang yang sudah berkeluarga lebih mementingkan pekerjaannya (dalam hal ini, termasuk kategori 'dll') daripada orang-orang di sekitarnya, sampai ia mulai kehilangan mereka, barulah ia atur kembali daftar prioritasnya. Orang seperti itu patut dikasihani. Ia tidak bisa menghargai atau mensyukuri apa yang telah ia miliki.

Bagi mereka yang sudah berstatus suami atau istri, kategori 'pacar' sudah masuk dalam 'keluarga'. Jadi pilihan mereka hanya dua: keluarga atau teman.

Banyak orang lebih menjaga hubungan keluarga daripada dua hubungan yang lain. Wajar saja. Kekerabatannya lebih erat. Tetapi tidak sedikit pula orang yang lebih menghargai teman daripada keluarga atau pacar. Orang seperti ini mungkin memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya dan lebih sering keluar bersama teman-temannya. Sementara pacar... yah, aku tidak tahu banyak tentang itu, jadi kurasa tidak akan kubahas terlalu dalam.

Tapi, tentu saja, ada juga orang yang lebih mengutamakan pacar. Mungkin karena, sekali lagi, hubungan dengan keluarganya tidak bagus, maka ia mencari cinta kasih dari orang lain, sementara teman-temannya tidak terlalu baik padanya. Atau orang yang sebenarnya memiliki teman-teman terbaik dan keluarga terbahagia, tetapi dia buta oleh kasih sayang yang diberikan oleh orang yang dicintainya. Cinta itu buta, kan? Dan jika orang yang dicintainya itu pergi, ada dua kemungkinan: ia akan menjauh dari orang-orang yang menyayanginya karena depresi atau menerima bantuan dari orang-orang tersebut dan menyadari bahwa mereka sama berharganya dengan pacarnya dulu.

Atau sejenis itulah.

Yang pasti, entah itu keluarga, teman, atau pacar yang merupakan hal paling penting bagi seseorang, bukan berarti hal lainnya malah menjadi tidak bermakna. Semua yang kita miliki sekarang adalah sebuah anugerah. Usahakan untuk terus menjaganya.

Ingat, terkadang kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya.

Dan kehilangan itu menyakitkan, jelas.

Jadi, baik keluarga, teman, atau pacar, ketiganya hal penting yang perlu dipertahankan. Terserah yang mana yang menjadi prioritas, selama yang lain tidak diabaikan.

LEER MÁS...

Musyrik atau Atheis?

| 0 komentar |

Bingung juga yang mana. Dua-duanya sama-sama parah. Tapi, kalau dilihat dari segi orang-orangnya, pendapatku (pribadi) musyrik lebih parah. Maksudku, Yahudi menyerang Gaza. Wajar, kan, kalau musyrik lebih parah?

Pendapat lain, orang-orang musyrik tahu kalau Tuhan itu ada, tetapi mereka memilih menyekutukan-Nya. Nah, orang-orang atheis belum tentu tahu kalau Tuhan itu ada. Mereka hanya tidak mengerti. Siapa tahu, mungkin saja karena mereka tidak pernah diajari mengenai agama.

Tapi, masalahnya, bagaimana kalau mereka tahu Tuhan itu ada, dan mereka memilih untuk tidak menyembah-Nya? Apakah itu menjadikan mereka setara dengan orang-orang musyrik? Jika ya, mereka kan tidak menyembah yang lain; apakah itu masih menjadikan mereka sama dengan orang-orang musyrik? Apakah kepercayaan akan ketidakberadaan Tuhan juga dianggap musyrik?

Jika kuanggap hal ini seperti sebuah ulangan pilihan ganda. Ulangan itu menggunakan sistem minus. Jika benar nilai akan bertambah, jika salah nilai berkurang, namun jika tidak menjawab sama sekali maka nilai tidak akan bertambah maupun berkurang.

Di satu soal, aku ragu akan menjawab pilihan A, B, C, atau D. Misalkan jawaban yang benar di antara A dan B. Aku tidak yakin jawaban yang benar yang mana. Jika aku benar memilih maka, sekali lagi, nilaiku akan bertambah dan mungkin aku akan lulus ulangan tersebut. Tetapi, jika salah, maka bisa fatal akibatnya. Akhirnya, aku memilih jalan aman: tidak memilih. Diam.

Kembali ke masalah, andaikan pilihan A tadi musyrik dan B bukan musyrik. Aku ragu mana yang benar, maka aku memilih untuk tidak memilih sama sekali. Dengan kata lain, aku menjadi atheis (tetapi aku BUKAN atheis. Ini hanya perumpamaan).

Kalau dilihat dari segi ini, atheis tampak lebih baik daripada musyrik. Yah, lagipula, dilihat dari Israel-Gaza, musyrik memang terlihat lebih parah. Selama enam belas tahun lebih aku hidup, belum pernah kudengar berita mengenai serangan kaum atheis.

Tapi, dari kesimpulan di atas, bukan berarti atheis itu bagus. Hanya tidak lebih parah dari musyrik saja.

Yah, aku penasaran bagaimana pendapat orang lain.

LEER MÁS...

Tingtong!

| 0 komentar |

Post kali ini buat perkenalan doang.

Oke. Beberapa bulan yang lalu aku membaca sebuah buku. Ceritanya mengenai seorang anak yang bersekolah di sebuah sekolah yang menarik di Swiss. Di salah satu bab, si anak mendapat pelajaran mengenai berpikir. Nah, dari situ aku dapat ide untuk membuat blog ini.

Memang, 'berpikir' sepertinya membosankan. Yang melakukan kegiatan ini biasanya orang-orang macam Einstein dan Newton. Bagi orang lain, biasanya berpikir itu kegiatan sampingan. Hal yang dilakukan hanya jika ada waktu yang benar-benar luang dan tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali berpikir.

Masalahnya, kita diberi otak untuk berpikir. Entah berpikir tentang apa--pokoknya berpikir, baik negatif atau positif. Jadi, kita seharusnya jangan malas berpikir. Banyak hal di dunia ini yang harus dipikirkan. Entah itu hal yang menimbulkan pra-kontra, hal yang masih berupa misteri, atau bahkan masalah pribadi. Dan pada kenyataannya, berpikir pun sebenarnya menghabiskan waktu lebih dari yang kita kira.

Misalnya, dalam 3 hari, coba kau pikirkan bagaimana cara menilai pikiran seseorang. Sampai seminggu pun, kalau tidak disuruh berhenti, kau tidak akan bisa berhenti memikirkan bagaimana caranya.

Tetapi, untuk jangka panjang, kegiatan seperti ini biasanya berlaku untuk kegiatan berkelompok. Karena dengan adanya kelompok, banyak pikiran yang bisa dibagi dan kesimpulan pun tidak akan didapat semudah yang dibayangkan.

Jadi, cobalah luangkan waktu sekali-kali untuk berpikir. Pikirkan tentang apa saja. Untuk langkah awal, mungkin bagus jika diawali dengan pertanyaan 'Siapa aku?'. Kalau dalam satu menit kau sudah mendapatkan jawaban siapa dirimu, coba pikirkan ulang. Siapa tahu jawaban itu tidak menggambarkan dirimu, tetapi menggambarkan seseorang yang kamu kira adalah dirimu.

Berpikir itu mudah. Coba saja.

LEER MÁS...

Post Pertama--Tugas TIK

| 1 komentar |

Yap! Postingan pertama..
Oke, segini dulu. Lagi buru-buru (baca: diseret ke
BEC)

Ini buat tugas gambarnya; lumayan, nemu di google:
Ha.. film seri favorit.

'Everybody lies'
... Hell yeah!

LEER MÁS...